Sedikit catatan Napak Tilas Route Gerilya Banjarnegara Berjuang Periode ke XXIV

Pernah denger istilah napak tilas belum kisanak ?? Belum ? weleh.......
Napak tilas itu adalah sebuah kegiatan perjalanan panjang yang biasanya dihindari oleh cewek cewek cantik nan putih macam sosialita karena akan mengakibatkan perubahan warna kulit secara signifikan dan perubahan nyata pada tingkat kekusaman wajah ...... eh......

Bukan ding ....... hehehehe.......

Jadi gini kisanak....napak tilas itu sebuah kegiatan yang dilakukan oleh manusia berupa perjalanan  nan panjang dimana rute yang dilalui adalah rute khusus yang mempunya nilai historis tertentu. Baik dilakukan secara individu maupun bersama sama ....kalau menurut KBBI, Napak Tilas diartikan sebagai berjalan kaki dengan menelusuri jalan yang pernah dilalui oleh seseorang, pasukan, dan sebagainya untuk mengenang perjalanan pada masa perang dan atau sejarah masa lalu......

begitu .......

Pelepasan napak tilas di Ds. Pejawaran oleh Sekcam Pejawaran
Kalau di Banjarnegara kegiatan semacam ini ada lho yang rutin dilaksanakan setiap tahun dengan tajuk Napak Tilas Route Gerilya Banjarnegara Berjuang. Konon, melalui event Napak Tilas ini Pemerintah Kota Banjarnegara mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat lebih dekat potensi budaya dan masyarakatnya. Hal ini dibuktikan dengan rute lomba yang telah diatur sedemikian rupa  sehingga para peserta bisa mengikuti lomba seraya menikmati pemandangan alam yang indah yang kedepannya diharapkan bisa menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan olahraga terbaik di Indonesia. 

Tahun ini Napak Tilas Route Gerilya Banjarnegara Berjuang telah memasuki Periode ke XXIV dimana sebanyak 417 peserta ambil bagian, dengan peserta tertua yang tercatat adalah Mbah Kirno asal Madiun (namun bermukin di Depok) yang sudah berusia 84 tahun. Wow .....

Dalam sambutan pelepasan peserta yang digelar di Lapangan Desa Leksana Kecamatan Karangkobar pada hari Jumat 10 November 2017 siang,  Wakil Bupati  mengungkapkan bahwa kegiatan Napak Tilas yang rutin diadakan setiap tahun ini adalah aksi nyata dalam memaknai nilai-nilai perjuangan. “Siapapun yang mengikuti kegiatan ini akan menyadari bahwa kita ada sampai saat ini karena jasa-jasa dan perjuangan para pahlawan untuk memperoleh kemerdekaan,” katanya. Karena itu dia mengajak kepada seluruh peserta Napak Tilas, untuk selalu menjaga semangat perjuangan para pahlawan, serta meneeruskan perjuangan pada bidang yang berbeda

Ketua Panitia Napak Tilas tahun ini, Arif Sofikhin alias Arif Tlewang mengatakan, peserta pelajar berasal dari hampir semua sekolah menengah atas di Kabupaten Banjarnegara sedangkan peserta umum berasal dari kalangan penggemar long march baik dari Banjarnegara sendiri maupun dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Trenggalek, Ciamis, Brebes, Wonosobo, Purwokerto dan kota kota lainnya.  Menurutnya, selain untuk memperingati hari pahlawan, kegiatan napak tilas ini dilaksanakan sebagai wahana silaturahmi bagi masyarakat Banjarnegara dengan masyarakat, serta untuk memperdalam rasa nasionalisme dan patriotisme akan nilai-nilai perjuangan bangsa khususnya bagi generasi muda. “Dengan Napak Tilas ini diharapkan dapat mencegah generasi muda melakukan kegiatan bersifat negative,” lanjutnya.

Napak Tilas Route Gerilya Banjarnegara Berjuang Periode ke XXIV ini dibagi menjadi tiga etape. Etape pertama dimulai dari Desa Leksana Kecamatan Karangkobar dengan tujuan desa Pejawaran Kecamatan Pejawaran sejauh kurang lebih 34 kilometer. Pada etape kedua, peserta napak tilas melanjutkan perjalanan dari desa Pejawaran menuju Desa Kutayasa Kecamatan Madukara sejauh sekitar 48 kikometer. Pada etape terakhir, peserta memulai perjalanan napak tilas dari Desa Kutayasa Madukara menuju titik akhir di Pendopo Kabupaten Banjarnegara di pusat kota sejauh sekitar 15 kilometer. Perjalanan napak tilas ini menantang karena rute yang dilalui peserta kebanyakan jalan setapak atau hutan. 

Berdasarkan catatan sejarah, halah ..........Napak tilas dengan rute gerilya pejuang kemerdekaan ini pertama kali diadakan pada 1992 silam lho oleh para pecinta alam dan KNPI. Penyelenggaraan napak tilas ini berawal dari semangat mereka dalam menumbuhkan patriotisme di kalangan pemuda. Juga didasari keprihatinan bersama terhadap minimnya pengetahuan masyarakat mengenai sejarah perjuangan para pahlawan di daerahnya masing-masing. Di sisi lain, dengan latar bekakang pecinta alam, pihak penyelenggara juga menyelipkan misi konservasi lingkungan. Dimana kegiatan ini sekaligus bagian dari ekspedisi untuk memetakan daerah-daerah rawan bencana semisal tanah longsor di sekitar rute napak tilas. Dengan pemetaan yang tepat, pihaknya berharap bisa mengedukasi masyarakat setempat agar mau terlibat dalam upaya konservasi di daerah masing masing.

"Kami bawa bibit aren dan kopi. Tanaman kopi sebagai pengikat tanah untuk cegah longsor. Sementara Aren untuk melindungi mata air di daerah yang sumber mata airnya terus menurun, kopi adalah komoditas potensial yang cocok ditanam di daerah dengan struktur tanah miring karena akarnya yang mampu mengikat tanah sehingga mengurangi tingkat resiko bencana"kata Arif Tlewang.

Selain itu dalam rangka memperkenalkan potensi alam dan pariwisata di Banjarnegara kepada masyarakat luar, jika rute gerilya yang dilalui berdekatan dengan objek wisata alam, peserta napak tilas akan diajak mampir sejenak untuk menikmati keindahan alam di objek tersebut. Menarik bukan ?

So, Tertarik ??
Jangan lupa tahun depan ikut yuk ......

Bersama Mbah Kirno (84 tahun) perserta tertua NT XXIV 2017

11.15.2017
Posted by ngatmow prawierow

Curug Sipawon, Si Cantik Yang Perlu Dijamah Lagi

Kabupaten Banjarnegara yang notabene adalah kota kecil dengan sebagian besar wilayahnya terdiri dari daerah pegunungan, tidak dipungkiri lagi punya sejuta kekayaan alam dan potensi wisata yang masih bisa dikembangkan lebih lanjut lho kisanak..... suwer ......
Saking banyaknya, sampai sebagian besar potensi itu bahkan belum terpetakan oleh pemerintah (dalam hal ini Dinas Pariwisatanya). Kalaupun sudah ya paling hanya sebatas teman saja....eh...... maksudnya sebatas tahu dan "pernah" dikunjungi pejabat. Sudah gitu tok.......

Mau bukti ? Olret ........
Salah satu contohnya adalah Curug Sipawon yang secara geografis berada di wilayah dusun Pagondangan, Desa Wanareja  Kecamatan Wanayasa dan salah satu bagian dari Sungai Panaraban yang jadi batas wilayah Kecamatan Pejawaran dengan Kecamatan Wanayasa (ini yang menjadikannya disebut juga sebagai Curug Panaraban). Sudahkah sampai saat ini populer di kalangan para traveler luar kota atau minimal masuk dalam peta wisata ?
Agak sangsi saya .......


Dulu, curug alias air terjun ini pernah dikunjungi oleh para pejabat dan petugas dari Kabupaten Banjarnegara untuk sekedar difoto dan dipublikasikan di majalah KEBANGGAAN Pemda Banjarnegara (karena hanya kalangan mereka saja yang membacanya hahaha ...... ), DERAP SERAYU Magazine........ tapi adakah kelanjutan dan tindak lanjutnya ? Nehi pemirsah ......

Beberapa waktu yang lalu saya beserta Tim Njawar KPFB Banjarnegara sengaja mbolang kesana. Disamping memang dekat dengan sawah area kerja saya, juga rasa penasaran karena mendengar bahwa di curug ini masih banyak hewan liar semecam monyet, kera, kethek dan sejenisnya. Juga babi hutan dan celeng yang sering terlihat di sekitarnya. Maka dari itu saya ambil kesimpulan bahwa curug ini masih perawan...... virgin....... #maraipingin #ehh

Singkat cerita, saya dan mas Bowo Capung serta mas Agussalam Azzet  mencari waktu yang tepat alias longgar dan layak untuk mbolos ngarit demi sekedar piknik sebentar ke Air Terjun alias curug yang dimaksud. Tujuannya ? Jelas.... pingin membuktikan apa yang orang orang katakan dan ceritakan ...... jyah......

Dan perjalananpun dimulai .....

Pertama kami berkumpul di Kantor Kecamatan Pejawaran untuk kemudian berkendara kurang lebih 10 menit menuju Desa Sarwodadi. Jangan takut jalan berlobang (seperti isyu yang beredar selama ini) karena jalannya alus mulus layaknya paha mbak Luna lho pemirsa ..... suwer......

Selanjutnya dari pusat desa, kami ditunjukkan arah ke curug dimaksud oleh seorang perangkat desa melalui jalan tlasah alias jalan gemrunjal alias lagi jalan yang berupa susunan batu yang ditata sedemikian rupa sehingga lumayan bisa dilewati kendaraan bermotor.

Tidak lebih dari 1,5 km dengan pemandangan hijau dari daun tetumbuhan di kebon yang membentans sepanjang perjalanan kami akhirnya bisa diselesaikan dengan sempurna. Kuncinya, motor dalam keadaan prima, roda depan belakang cukup angin dan bensin penuh !!!


Sesampainya di ujung jalan tlasah, jalan kemudian berganti rupa dan bentuk. Bukan jadi jalan bayi melainkan jalan setapak yang hampir dipenuhi rumput ilalang setinggi dada. Butuh keberanian dan nyali sebenarnya. namun kata pepatah " Orang pintar kalah dengan orang yang beruntung, dan orang beruntung akan kalah dengan orang yang nekad " hehehe.......  kami lanjut terus.... menyibakkan kelambu itu eh.....menyibakkan rerumputan demi rerumputan sepanjang kurang lebih 500 meter (10 menit perjalanan RATA) berikutnya hingga sampai pada tujuan akhir yaitu Curug Sipawon.


Subhanalloh ......
Sangat indah sodara sodara.......
Air terjun setinggi kurang lebih 25 meter ini memiliki debit air yang cukup besar dengan bebatuan yang sangat mendukung untuk kegiatan foto pribadi alias selfi. Area pendaratan air pun cukup menarik dan luas sehingga memungkinkan untuk berenang dan ciblon disana. Namun ada hal yang perlu diperhatikan yaitu pada tepat di bagian bawah air terjun terdapat lubang air yang cukup dalam berbentuk seperti pawon sehingga akan sangat berbahaya apabila terseret air ke dalam lubang tersebut apalagi dengan debit air yang sekarang ini lagi besar besarnya ..........

Airnya jernih sejernih matamu malam itu #ehh .....
sumpah airnya jernih dan adem, sangat cocok bagi manusia manusia dengan pikiran super berat untuk menyepi dan menenangkan diri. Adem, sepi, damai, terpencil pula......... recommended kalau mau bunuh diri  #ehh

Sebenarnya di balik bukit di sebelah curug ini, masih ada lain yang konon lebih indah dan menantang. Namanya Curug Tumpuk Telu..... dari namanya sudah bisa dibayangkan bahwa di curug ini akan ada 3 lapis (mungkin semacam rumah lapis yang lagi tren di ibu kota hehehe...) air terjun nan indah yang sangat menggoda untuk dijamah....... namun karena arus sungai terlalu deras dan tidak ada jalan lain ke sana selain lewat tengah kali ...... yakin.......

Dan rasa penasaran ini akhirnya harus kami tahan (semoga tidak menjadi penyakit seperti nahan ngeden) dengan sebuah komitmen bahwa ketika cuaca sudah memungkinkan kami pasti akan kesana lagi ......... PASTI......

Ikut ????





11.07.2017
Posted by ngatmow prawierow

Banjarnegara Street Photohunt 2017 : Culture On The Street

Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara (KPFB) bekerjasama dengan Gajah Pro Production dan RajaTrophy Banjarnegara pada tanggal 22 Agustus 2017 atau bertepatan dengan Hari jadi Kabupaten Banjarnegara yang ke 186 sukses menyelenggarakan sebuah kegiatan bertajuk " Banjarnegara Street Photo Hunt : Culture On The Street "

Kegiatan yang berlangsung pada hari kerja ini ternyata tidak menyurutkan niat para peserta yang berlatar belakang dari berbagai golongan dan pekerjaan. Terbukti dengan jumlah peserta yang mencapai 77 orang. Jumlah yang cukup banyak untuk kegiatan yang digelar di hari kerja di kota kecil pula hehehehe...... FYI, banyak diantara peserta yang (berstatus pegawai, karyawan bahkan juragan) rela mengajukan cuti kantor, ijin, mengajukan Dinas Luar, bahkan ada yang sampai bolos resmi dari kantor/instansinya masing masing. Salutt........

Dengan submit point di Dapoer Central Cafe and Resto, secara garis besar pelaksanaan lomba foto OTS ini sukses digelar. Dimulai dari proses pendaftaran sejak jam 7 pagi sampai dengan berakhirnya proses penjurian pada jam 2 siang, semuanya dapat berjalan dengan baik tanpa ada permasalahan yang cukup berarti. Bahkan pada saat waiting time,  alias menunggu proses penjurian, tidak ada satu pesertapun yang merasa kurang nyaman karena diselingi dengan Ekstra Photo session dan hidangan full dari DC resto ...... bebas makan apa saja......... bayarnya pas mau pulang saja ........dan bukan tanggungan panitia tentu saja........hehehehe.................


Dan......
Dari hasil penjurian yang cukup alot............dalam lomba foto ini diperoleh hasil sebagai berikut :
- Juara I      :  Edo Saputra 
- Juara II     :  Wahyu Tri Suroso
- Juara III    :  Agus Wuryanto
- Juara Harapan I  :  Moh Reza Gemi Omandi
- Juara Harapan II  :  Kukuh Bhahari
- Juara Harapan III  : Yoga Ardi Nugroho

Penasaran seperti apa foto foto juaranya ? Check this out man........
Monggo .........

Juara I : Edo Saputra

Juara II : Wahyu Tri Suroso

Juara III  :  Agus Wuryanto

Juara harapan I  :  Moh. Reza Gemi Omandi

Juara Harapan II  :  Kukuh Bhahari

Juara harapan III  :  Yoga Ardi N
Meskipun penduduk tuan rumah tidak ada satupun yang berhasil menjadi juara, tapi setidaknya ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari lomba ini. Pertama, pelajaran tentang memahami tema lomba. Hal ini menjadi penting karena dari hasil penjurian ternyata sebagian besar penduduk tuan rumah mengirimkan foto yang melupakan 'street' nya. Alias justru mensubmit foto foto budaya yang sedang berlangsung. baru setelah pengumuman juara banyak yang menyesali keputusan submit fotonya masing masing

Kedua, dari sisi internal pribadi teman teman yang belum berhasil menjadi juara mungkin akan sedikit kecewa, namun hal itu diharapkan jangan sampai menjadi sebuah alasan untuk berhenti mencoba dan memupus jiwa kompetisi masing masing. Mental untuk berkompetisi perlu selalu dipupuk untuk menghasilkan seorang juara yang benar benar handal dan tahan banting. Ya minimal untuk sedikit mengobati kekecewaan gagal menjadi juara ya dengan menyalahkan teman.......

" sante, banyak temennya man....... tuh yang juara cuman berenam.lha kita segini banyak temennya kok............jangan lebay lah....... " begitu misalnya hehehehe....................

atau .......

" ah foto gitu aja menang....aku punya tuh yang lebih baik dari itu.........cuman ga disubmit ke panitia......... mbak panitia sih kenapa cantik banget, kan aku jadi ga fokus submitnya ........"

By the way, harapan utama diadakannya lomba foto semacam ini sebenarnya adalah ikut meramaikan pagelaran kirab hari jadi Banjarnegara dari sisi fotografi (suwer...... setelah acara ini pendaftar di lomba foto Pesona Banjarnegara jadi meningkat drastis), juga sebagai ajang silaturahmi para pecinta fotografi yang ada di wilayah Banjarnegara dan sekitarnya. Selain itu Wawan Kardjo sebagai ketua pelaksana,  berharap acara ini bisa menjadi langkah awal dari berbagai kegiatan fotografi dan lomba foto yang diadakan di Banjarnegara ke depannya sehingga duunia fotografi di Banjarnegara terus mengalami kemajuan yang positif dan signifikan........halah.........

Foto Keluarga

Para Jawara (termasuk yang tengah lho ......)

Tim Ubresh


8.31.2017
Posted by ngatmow prawierow

Dieng Culture Festival VIII, Semakin Rapi, Terkendali tapi semakin Sepi

Kau mainkan untukku 
Sebuah lagu tentang negri di awan 
Di mana kedamaian menjadi istananya 
Dan kini tengah kau bawa Aku menuju kesana ................

Begitu kira kira bait demi bait lagu Negeri Di Awan yang dilantunkan oleh om Katon Bagaskara dan pak Gubernur Ganjar Pranowo malam itu. Malam dimana suhu udara mencapai 3 derajat celcius.

What ? tiga derajat ?
Yang bener aja......

Ya iya lah Dieng gitu ..... kalau di bulan Juli-Agustus itu mah wajar saja. Dan akan selalu terulang di setiap tahunnya. Suer......
Dan kenapa kok om Katon dan Pak Gubernur rela berdingin dingin di Dieng sambil bernyanyi nyanyi ? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena algi ada pagelaran akbar tahunan warga Dieng yaitu Dieng Culture Festival yang ke delapan tanggal 4 - 6 Agustus 2017 lalu.

Yap, seperti tahun tahun sebelumnya DCF mampu menyedot perhatian ribuan massa untuk berkunjung ke Dieng dan menikmati dinginnya udara malam yang begitu menusuk tulang serta rela mengeluarkan duit 10ribu rupiah demi segelas kopi...... what the f#@k that........

DCF VIII tahun 2017 ini memang punya suasana yang agak berbeda dengan DCF tahun tahun sebelumnya. Terlihat lebih rapi, lebih terencana dan lebih sepi.........
Lho??
Khusus yang point terakhir, ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan sebagai "kambing hitam", salah satunya adalah mahalnya tiket masuk ke area yang mencapai 400ribu OTS. Damn.... !!!

Suasana puncak pesta kembang api dan lampion Jazz Atas Awan 2017

Alrigt..... mari kita ngobrol lebih jauh soal DCF VIII kali ini.
Hal positif pertama yang wajib dan harus kita apresiasi adalah bahwa pelaksanaan kali ini adalah murni swasembada Pokdarwis alias tanpa campur tangan pemerintah......
Kedua, pengelolaan lalu lintas jauh lebih baik dari pada DCF sebelumnya. Hal ini berimbas pada lancarnya arus kendaraan baik yang masuk maupun keluar dari Dieng.
Ketiga, Tempat parkir kendaraan dan "parkir manusia" dalam bentuk camping ground juga sudah tertata rapi (meskipun tidak bisa dipungkiri masih ada banyak sekali tenda tenda dengan lokasi yang ilegal)

Selanjutnya, alias yang ke empat,  dari sisi acara juga sudah cukup bervariasi baik pada hari pertama maupun hari kedua. Hal ini bisa dibuktikan dengan penampilan grup rebana yang menyanyikan lagu-lagu keagamaan dan pembacaan ayat suci Alquran sebagai pembuka rangkaian acara, panggung Jazz di Atas Awan, Festival Caping dan Ritual Anak Gimbal sebagai acara puncak yang berlangsung pada hari Minggunya di area Candi Arjuna.

Kelima, pada saat pelaksanaan acara acara malam, titik dimana orang berdesak desakan sudah jauh berkurang. hanya pada tempat tertentu saja seperti di depan panggung (dan itupun di luar area tamu penting saja), hal ini kemudian menjadikan wilayah lain di sekitar Dieng relatif lebih sepi..
Enam, petugas keamanan yang selalu stand by penuh dan tanpa ampun dalam mengatasi segala bentuk potensi kerusuhan (ini bisa dibuktikan dengan terjadinya "pembuangan" beberapa orang pengunjung oleh pihak panitia dan keamanan karena mabuk berat di sekitar lokasi utama DCF sehingga meresahkan pengunjung lainnya ke luar area Festival)

Tapi....................Diluar segala hal positif itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan sukur sukur bisa menjadi bahan pelajaran dalam pelaksanaan DCF selanjutnya. Dan tanpa bermaksud mencela atau menghina, hanya bermaksud untuk mengajak kita semua berfikir sambil berbenah diri, berikut beberapa catatan yang saya rasa perlu ditindaklanjuti lebih jauh lagi.......
Pertama,  Harga Tiket yang (saya rasa) terlalu mahal untuk kantong masyarakat ramai macam saye.....400 ribu men...... gila aja....... untuk tiket dengan harga segini, andai saya masih mahasiswa tenu ga akan kuat beli. Paling kalo ke Dieng pun hanya bisa nonton keramaian dan suasananya dari jauh saja. Ga berani deket deket apalagi ikut berdesakan demi dapet fotonya Anji lagi nyanyi pas Jazz atas Awan ........

Kedua, meskipun sudah agak mendingan, saya pikir perlu ada petugas pengatur khusus untuk para pemotret yang berada di barisan depan pada saat ritual puncak pemotongan rambut gimbal di komplek candi arjuna. Kenapa perlu ? sebab banyak sekali tripot, tongsis dan bahkan drone yang pating pencungul di barisan depan dan itu sangat sangat mengganggu barisan fotografer yang ada di belakang (termasuk wartawan yang tidak dapat tempat di panggung).........

Ketiga, kemasan pada saat ritual puncak mungkin perlu sedikit dikemas sedmikian rupa sehingga penonton tidak bosan dan beranjak meninggalkan tempatnya sebelum acara selesai. Seperti kemarin, begitu pemotong ke tiga (Pak Bupati Budi Sarwono dan Wabup Syamsudin)  naik altar, penonton bubar.... nah...... hal itu terjadi karena mereka sudah ilfil duluan dan bosan menunggu menyaksikan ritual yang hanya seperti itu saja.......

Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara

Padahal .......Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi digelarnya kembali Dieng Culture Festival (DCF) 2017. Menurutnya ini kolaborasi penta-helix. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Kulon sebagai komunitas, sukses menginisiasi acara yang terbukti efektif menarik wisatawan.
katanya sih Indirect impact-nya atau media value-nya cukup besar. Dan terbukti dari banyak media asing yang ikut meliput. Beliau sebelumnya juga telah menetapkan Dieng sebagai satu dari empat kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain Borobudur, Sangiran dan Karimunjawa.

Nah ...........

Udah ah ...... itu aja................

8.17.2017
Posted by ngatmow prawierow

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX7- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow